AGEN SABUNG AYAM- - Selama satu tahun ke belakang ini, salah satu lagu Black T-Shirt berjudul "Di Sini Saja" akrab didengar telinga saya. Black T-Shirt merupakan band punk asal Bandung yang sudah ada sejak medio 1990-an. Lagu berjudul "Di Sini Saja" merepresentasikan anti-kemapanan di dalam ranah kaum punk itu sendiri. Coba simak saja liriknya seperti ini:
"Tumpuk uangmu, setinggi gunung itu, jadi terkaya sedunia.
Aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja...
Semoga kamu terkenal, semoga banyak penggemar, jadi idola sedunia.
Aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja..."
Lirik yang singkat, padat, dan jelas untuk merepresentasikan anti-kemapanan para penganut ideologi punk. Dan lagu itu rasanya cocok bagi St. Pauli sebagai fenomena kesebelasan sepakbola punk rock yang jarang terjadi di dunia ini. Lagu "Di Sini Saja" cocok untuk menjadi lagu selamat ulang tahun di Indonesia bagi St. Pauli yang hari ini, 15 Mei, menginjak 107 tahun. St. Pauli merupakan salah satu kesebelasan yang berkarier di 2. Bundesliga, divisi kedua Liga Jerman.
Kendati berkiprah di 2. Bundesliga, St. Pauli merupakan kesebelasan yang eksentrik walau belum promosi kembali ke Bundesliga (divisi pertama Liga Jerman) sejak 2009/2010. Sejak berdiri pada 15 Mei 1910, St. Pauli pun tidak meraih prestasi yang benar-benar mentereng. Raihan terbaiknya mungkin hanya mencapai semifinal kejuaraan nasional Jerman setelah perang dunia ke II pada 1947/1948. Prestasi sepakbola terakhir yang diraih St. Pauli pun hanya menjadi runner-up 2. Bundesliga 2009/2010 yang membawa promosi ke Bundesliga 2010/2011. Ketika promosi ke Bundesliga pun cuma bertahan satu musim karena harus kembali degradasi ke 2. Bundesliga 2011/2012.
Tapi sejatinya bahwa keberadaan St. Pauli di divisi Liga Jerman manapun, bukanlah masalah bagi klub maupun pendukungnya. Dan klubnya pun tidak pernah dituntut pendukungnya agar bisa berprestasi mentereng atau sekaya Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan Borussia Moenchenglabdach yang sudah meraih gelar Bundesliga lebih dari lima kali. Atau bisa seperti kesebelasan-kesebelasan lainnya yang pernah berbicara di Eropa semacam SV Wender Bremen, VfB Stuttgart, VfL Wolfsburg, Bayer Leverkusen, bahkan Hamburger SV, sebagai rival satu kotanya sekali pun.
Bagi pendukung St. Pauli, pergerakan sosial lebih penting ketimbang menjadi kesebelasan yang bergelimang uang dan prestasi. Pernjualan atribut St. Pauli oleh pihak klub maupun pendukungnya pun lebih banyak diperuntukan penggalangan dana sosial. Hasil uang tersebut disumbangkan untuk daerah-daerah kekurangan air bersih, korban perang saudara, maupun isu-isu sosial lainnya. Bahkan para pendukung St. Pauli pernah menjual atributnya untuk menolong kesebelasannya itu dari kebangkrutan pada 2003/2004 lalu.
Sisanya, para pendukung St. Pauli hanya ingin berkumpul, meminum bir, bernyanyi, dan menonton pertandingan kesebelasannya tanpa memedulikan hasil akhir. Pernah suatu ketika St Pauli di ambang degradasi ke divisi tiga pada pada 2. Bundesliga 2014/2015, tapi para suporter di belakang gawang tetap berteriak "Forza St. Pauli!" sambil mengibarkan logo tengkorak yang mereka banggakan.
Aksi-aksi dari dalam maupun luar lapangan, St. Pauli memang lebih menarik daripada jejak rekam prestasi kesebelasannya sendiri. Adanya kereta sosis dan bir di tribun stadion serta dua sarang lebah yang dipelihara di stadion untuk menyoroti populasi lebah madu di seluruh dunia pun sudah menjadi wacana menarik bagi kesebelasan ini. Selebihnya, hal yang lebih menarik adalah terdapat kepentingan berkomunal di St. Pauli itu sendiri. Klub ini telah menjadi wadah bagi orang-orang yang kecewa karena keserakahan dan kebohongan sepakbola modern.
St. Pauli pun dijadikan kekuatan untuk menyebarkan fakta bahwa dakwah sosialis itu lebih penting ketimbang prestasi. Jika ditinjau dari logo tengkorak bajak laut St. Pauli pun sudah bisa menjelaskan sebuah tren pemberontakan untuk menangkal kelompok pendukung sayap kanan fasisme. Para pendukung St. Pauli memang selalu lantang menentang rasisme, seksisme, homofobia, dan fasisme, yang di mana bahwa faham-faham itu justru menjadi kultus di sebagian besar sepakbola Jerman penganut fasisme dan dianggap para pendukung St. Pauli sebagai ancaman sepakbola dunia. AGEN BOLA TERPERCAYA
"Tumpuk uangmu, setinggi gunung itu, jadi terkaya sedunia.
Aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja...
Semoga kamu terkenal, semoga banyak penggemar, jadi idola sedunia.
Aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja... aku di sini saja..."
Lirik yang singkat, padat, dan jelas untuk merepresentasikan anti-kemapanan para penganut ideologi punk. Dan lagu itu rasanya cocok bagi St. Pauli sebagai fenomena kesebelasan sepakbola punk rock yang jarang terjadi di dunia ini. Lagu "Di Sini Saja" cocok untuk menjadi lagu selamat ulang tahun di Indonesia bagi St. Pauli yang hari ini, 15 Mei, menginjak 107 tahun. St. Pauli merupakan salah satu kesebelasan yang berkarier di 2. Bundesliga, divisi kedua Liga Jerman.
Kendati berkiprah di 2. Bundesliga, St. Pauli merupakan kesebelasan yang eksentrik walau belum promosi kembali ke Bundesliga (divisi pertama Liga Jerman) sejak 2009/2010. Sejak berdiri pada 15 Mei 1910, St. Pauli pun tidak meraih prestasi yang benar-benar mentereng. Raihan terbaiknya mungkin hanya mencapai semifinal kejuaraan nasional Jerman setelah perang dunia ke II pada 1947/1948. Prestasi sepakbola terakhir yang diraih St. Pauli pun hanya menjadi runner-up 2. Bundesliga 2009/2010 yang membawa promosi ke Bundesliga 2010/2011. Ketika promosi ke Bundesliga pun cuma bertahan satu musim karena harus kembali degradasi ke 2. Bundesliga 2011/2012.
Tapi sejatinya bahwa keberadaan St. Pauli di divisi Liga Jerman manapun, bukanlah masalah bagi klub maupun pendukungnya. Dan klubnya pun tidak pernah dituntut pendukungnya agar bisa berprestasi mentereng atau sekaya Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan Borussia Moenchenglabdach yang sudah meraih gelar Bundesliga lebih dari lima kali. Atau bisa seperti kesebelasan-kesebelasan lainnya yang pernah berbicara di Eropa semacam SV Wender Bremen, VfB Stuttgart, VfL Wolfsburg, Bayer Leverkusen, bahkan Hamburger SV, sebagai rival satu kotanya sekali pun.
Bagi pendukung St. Pauli, pergerakan sosial lebih penting ketimbang menjadi kesebelasan yang bergelimang uang dan prestasi. Pernjualan atribut St. Pauli oleh pihak klub maupun pendukungnya pun lebih banyak diperuntukan penggalangan dana sosial. Hasil uang tersebut disumbangkan untuk daerah-daerah kekurangan air bersih, korban perang saudara, maupun isu-isu sosial lainnya. Bahkan para pendukung St. Pauli pernah menjual atributnya untuk menolong kesebelasannya itu dari kebangkrutan pada 2003/2004 lalu.
Sisanya, para pendukung St. Pauli hanya ingin berkumpul, meminum bir, bernyanyi, dan menonton pertandingan kesebelasannya tanpa memedulikan hasil akhir. Pernah suatu ketika St Pauli di ambang degradasi ke divisi tiga pada pada 2. Bundesliga 2014/2015, tapi para suporter di belakang gawang tetap berteriak "Forza St. Pauli!" sambil mengibarkan logo tengkorak yang mereka banggakan.
Aksi-aksi dari dalam maupun luar lapangan, St. Pauli memang lebih menarik daripada jejak rekam prestasi kesebelasannya sendiri. Adanya kereta sosis dan bir di tribun stadion serta dua sarang lebah yang dipelihara di stadion untuk menyoroti populasi lebah madu di seluruh dunia pun sudah menjadi wacana menarik bagi kesebelasan ini. Selebihnya, hal yang lebih menarik adalah terdapat kepentingan berkomunal di St. Pauli itu sendiri. Klub ini telah menjadi wadah bagi orang-orang yang kecewa karena keserakahan dan kebohongan sepakbola modern.
St. Pauli pun dijadikan kekuatan untuk menyebarkan fakta bahwa dakwah sosialis itu lebih penting ketimbang prestasi. Jika ditinjau dari logo tengkorak bajak laut St. Pauli pun sudah bisa menjelaskan sebuah tren pemberontakan untuk menangkal kelompok pendukung sayap kanan fasisme. Para pendukung St. Pauli memang selalu lantang menentang rasisme, seksisme, homofobia, dan fasisme, yang di mana bahwa faham-faham itu justru menjadi kultus di sebagian besar sepakbola Jerman penganut fasisme dan dianggap para pendukung St. Pauli sebagai ancaman sepakbola dunia. AGEN BOLA TERPERCAYA



0 komentar:
Posting Komentar