AGEN SABUNG AYAM- MU-nya Jose Mourinho masih membuat saya bergumam, "MU kok gitu?". Belum beda dengan David Moyes dan Louis van Gaal -- "sekuel" gagal setelah Sir Alex Ferguson.
Manchester United mulai bikin saya melirik berkat kharisma Eric Cantona. Aksi-aksi 'Class of '92 lantas membuat saya benar-benar kepincut dan mulailah saya jadi penggemar 'Setan Merah'. Dari mata turun ke hati, demikian ucapan klise di film-film komedi romantis. Di masa-masa itu yang berjaya adalah Serie A Italia. Menyenangkan, karena ketika kami sekelas urunan membeli sebuah majalah mingguan olahraga, poster pin-up berisikan para pemain United pun biasanya langsung sah jadi jatah saya. Semenyenangkan prestasi MU pada masa yang sudah lalu itu.
Ya, MU di bawah arahan Sir Alex Ferguson secara reguler menjuarai, atau paling tidak jadi pesaing utama, di Premier League. Arsenal jadi rival berat. Lewat sebuah debat "warkop", pernah pula seorang kawan berargumen bahwa The Gunners adalah yang paling atraktif di Inggris dan MU tidak ada apa-apanya. Ia mengibaratkan permainan free flowing Arsenal seperti film-film Jackie Chan -- penuh hiburan, mengundang kekaguman, membuat yang selesai menyaksikan masih terus membicarakan sampai berhari-hari kemudian. Saya tak mau kalah, menyebut The Red Devils layaknya film-film Jet Lee -- menghentak, efektif, tak perlu sampai berbelit-belit untuk bikin lawan kelenger.
Tapi itu kenangan masa lalu. Masa ketika polesan Fergie sedemikian epiknya sampai bisa tahan lama dan terus-terusan berada di tangga teratas, tak ubahnya trilogi Lord of The Rings yang mampu menjaga ritme dan merajalela di box office. United di era kekinian, selepas era Fergie, malah membuat saya memikirkan sekuel/remake/reboot (apa pun istilahnya) yang masih kerepotan dalam usaha mengulangi sebuah mahakarya.
David Moyes yang menjadi suksesor Fergie dinilai punya karakteristik serupa dengan pendahulunya. Sama-sama dari Skotlandia, Moyes merupakan putra mahkota yang ditunjuk raja sebelumnya. The Chosen One. Apa lacur, sekuel ini gagal total seperti layaknya Speed 2 (1997) yang minus Keanu Reeves si bintang utama dan daya tarik lakon sebelumnya -- sampai membuatnya jadi kesohor seperti sekarang, atau Dumb and Dumber 2 (2014) si long awaited sequel yang kewalahan memenuhi ekspektasi karena berusaha terlalu keras mengimitasi film originalnya -- bahkan mempertahankan duet Jim Carrey-Jeff Daniels yang sukses besar dua dekade sebelumnya.AGEN BOLA TERPERCAYA

Manchester United mulai bikin saya melirik berkat kharisma Eric Cantona. Aksi-aksi 'Class of '92 lantas membuat saya benar-benar kepincut dan mulailah saya jadi penggemar 'Setan Merah'. Dari mata turun ke hati, demikian ucapan klise di film-film komedi romantis. Di masa-masa itu yang berjaya adalah Serie A Italia. Menyenangkan, karena ketika kami sekelas urunan membeli sebuah majalah mingguan olahraga, poster pin-up berisikan para pemain United pun biasanya langsung sah jadi jatah saya. Semenyenangkan prestasi MU pada masa yang sudah lalu itu.
Ya, MU di bawah arahan Sir Alex Ferguson secara reguler menjuarai, atau paling tidak jadi pesaing utama, di Premier League. Arsenal jadi rival berat. Lewat sebuah debat "warkop", pernah pula seorang kawan berargumen bahwa The Gunners adalah yang paling atraktif di Inggris dan MU tidak ada apa-apanya. Ia mengibaratkan permainan free flowing Arsenal seperti film-film Jackie Chan -- penuh hiburan, mengundang kekaguman, membuat yang selesai menyaksikan masih terus membicarakan sampai berhari-hari kemudian. Saya tak mau kalah, menyebut The Red Devils layaknya film-film Jet Lee -- menghentak, efektif, tak perlu sampai berbelit-belit untuk bikin lawan kelenger.
Tapi itu kenangan masa lalu. Masa ketika polesan Fergie sedemikian epiknya sampai bisa tahan lama dan terus-terusan berada di tangga teratas, tak ubahnya trilogi Lord of The Rings yang mampu menjaga ritme dan merajalela di box office. United di era kekinian, selepas era Fergie, malah membuat saya memikirkan sekuel/remake/reboot (apa pun istilahnya) yang masih kerepotan dalam usaha mengulangi sebuah mahakarya.
David Moyes yang menjadi suksesor Fergie dinilai punya karakteristik serupa dengan pendahulunya. Sama-sama dari Skotlandia, Moyes merupakan putra mahkota yang ditunjuk raja sebelumnya. The Chosen One. Apa lacur, sekuel ini gagal total seperti layaknya Speed 2 (1997) yang minus Keanu Reeves si bintang utama dan daya tarik lakon sebelumnya -- sampai membuatnya jadi kesohor seperti sekarang, atau Dumb and Dumber 2 (2014) si long awaited sequel yang kewalahan memenuhi ekspektasi karena berusaha terlalu keras mengimitasi film originalnya -- bahkan mempertahankan duet Jim Carrey-Jeff Daniels yang sukses besar dua dekade sebelumnya.AGEN BOLA TERPERCAYA



0 komentar:
Posting Komentar